loader

Ekonom Sarankan Pemerintah Optimalisasi Ekspor Sawit

Foto

JAKARTA, GLOBALPLANET - Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad, secara umum saat ini permintaan minyak sawit atau CPO yang naik merupakan konsekuensi dari siklus ekonomi secara natural. Spesifik, penurunan ekonomi yang terjadi secara drastis akan diikuti oleh pertumbuhan yang kurang lebih sama signifikan.

Apalagi April 2021, IMF memproyeksi pertumbuhan ekonomi global cukup optimis di kisaran 6%, angka ini 50 basis poin lebih tinggi daripada prediksi yang sama di awal tahun. Sehingga, harga komoditas akan cenderung mengalami kenaikan karena peningkatan permintaan komoditas dunia.

“Ini tentu akan menguntungkan katakanlah produk minyak sawit kita. Dampaknya, tentu saja kan di penerimaan negara (naik.red), karena ada pungutan ekspor di situ. Lalu, kedua tentu saja akan meningkatkan porsi ekspor kita,” katanya dikutip dari Validnews, Jakarta, Sabtu (17/4).

Kemenko Ekonomi sendiri mencatat, harga referensi untuk minyak sawit mentah atau CPO periode April 2021 menyentuh angka cukup tinggi yaitu sebesar US$1.093,83 per ton. Sehingga, Bea Keluar yang dikenakan untuk ekspor CPO sebesar US$116 per ton.

Hanya saja, lanjut Tauhid, pemerintah akan mengalami dilema dalam menentukan kelangsungan program biodiesel atau mengekspor di tengah harga CPO yang cukup menjanjikan saat ini.

Pertimbangannnya, pemerintah tidak perlu lagi menambah pasokan biodiesel pengganti solar atau B30, jika alokasi yang ada saat ini sudah mencukupi. Gapki memproyeksi konsumsi biodiesel Indonesia sepanjang 2021 hanya akan sebesar 9,2 juta kilo liter, yang setara dengan 8 juta ton minyak sawit.

Ia sendiri menganjurkan pemerintah lebih baik untuk mengintensifkan ekspor komoditas ini dengan pertimbangan keuntungan yang didapat dari harga internasional yang relatif tinggi.

“Tapi, misal kalau harga minyak relatif stabil, maka selisihnya (keuntungan.red) menjadi nilai tambah bagi pemerintah karena ada pungutan ekspor, untuk industri, dan petani juga lebih baik karena harganya lagi meningkat,” ujarnya.

Selain itu, Tauhid juga mengingatkan, durasi supercyle perdagangan akan bergantung pada penyelesaian dunia dalam mengentaskan sentimen pandemi covid-19. Semakin cepat teratasi, akan semakin pudar juga momen ini untuk bisa dimanfaatkan oleh Nusantara dalam meningkatkan pendapatannya.

“Kalau sudah stabil lagi (ekosistem perdagangan dunia.red), ya sudah enggak akan terjadi lagi katakanlah permintaan yang begitu besar mendadak dalam kurun waktu singkat,” jelasnya.

BPS mencatat, selama Maret 2021, peningkatan ekspor produk lemak dan minyak hewan/nabati menjadi yang terbesar pada kelompok ekspor nonmigas dengan nilai US$1,16 miliar atau tumbuh 67,9% (mom). Tercatat, total nilai ekspor produk ini mencapai US$2,88 miliar pada bulan yang sama.

Sebelumnya, Mendag Muhammad Lutfi menjabarkan, melambungnya harga CPO di dunia diakibatkan terganggunya panen kacang kedelai dunia saat ini. Ia mencontohkan produsen komoditas kedelai seperti Brasil mengalami masalah luar biasa karena hasil panen cukup jelek dan basah akibat gangguan fenomena La Nina.

“Begitu juga di Argentina yang mengalami mogok masal di dalam negerinya,” katanya, Jumat (16/4)

Serangkaian fenomena ini mengakibatkan harga minyak sawit atau CPO Indonesia mendekati US$1.100 per ton. Adapun, saat ini harga CPO dan minyak kedelai memiliki selisih harga hingga US$120.

Lutfi pun menyebutkan keadaan ini belum akan berakhir setidaknya hingga akhir Juni 2021, karena semua pihak mesti menunggu hasil panen baru kedelai di dunia. Pada akhirnya, diakuinya, Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia cukup menikmati fenomena kenaikan harga tersebut.

“Mudah-mudahan dalam proses ini kita bisa menjaga dan berkomitmen menjadi B30. Indonesia mungkin salah satu negara di dunia yang paling disiplin, paling baik dan paling komitmen terhadap biofuel,” jelasnya.

Jangan Gagap Strategi

Lainnya, tauhid juga meminta pemerintah tetap mewaspadai penurunan harga pada komoditas CPO di tingkat dunia. Mitigasi perlu disiapkan Indonesia karena potensi siklus penurunan harga bisa terjadi secara tiba-tiba, entah dalam jangka pendek atau menengah.

Pemerintah bisa belajar dari pengalaman harga CPO di tahun-tahun sebelumnya yang harganya cukup fluktuatif secara esktrem. Keputusan switch off strategi berkenaan kinerja CPO nasional harus diaplikasikan secara cermat dan tepat.

“Kalau turun kembali lagi ya kita merana lagi, karena harga rendah dan sebagainya. Makanya harus ada antisipasi. Misal pada kebutuhan domestik diseimbangkan jadi ada fleksibilitas untuk konsumsi domestik, sehingga harga internasional tetap terjaga in dan out-nya agar mengikuti harga internasional juga,” jelasnya.

Sementara itu, momen supercycle juga bisa dimaksimalkan oleh Indonesia dalam persoalan lobi dagang Indonesia kepada Uni Eropa berkaitan produk CPO ini. Apalagi, referendum Swiss yang menerima produk minyak sawit Nusantara bisa terus dioptimalkan dan menjadi katalis dalam mendorong dan meyakinkan CPO, agar bisa diterima di kawasan Benua Biru.

“Paling tidak, tidak sampai terjadi penolakan parlemen dan bisa digagalkan dalam sidang WTO. Saya kira itu penting juga dilakukan di samping sambil berkampanye sisi positif dari minyak sawit,” tegasnya.

Selain Eropa, Indonesia juga bisa mengoptimalkan pasar CPO di China yang mulai berkembang dengan tingkat pemulihan ekonomi yang ritmenya sudah meninggi. Bisa juga mengoptimalkan kerja sama dengan negara-negara penghasil CPO dalam mengkonsolidasikan harga.

“Bentuknya ada optimalisasi (strategi.red), agar harga (CPO) internasional tidak terlampau jatuh, ketika dalam situasi harga turun,” ujarnya.

Share

Ads