Berita :: GLOBALPLANET.news

Komda Sumsel APHI, Iwan Setiawan. (Foto: Ist)

08 Agustus 2020 09:40:00 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Setiap memasuki musim kemarau yang selalu menjadi momok menakutkan bagi Sumatera Selatan adalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Tak hanya Pemda, semua pihak yang kerap bersinggungan dengan lahan harus berjibaku melibatkan diri dalam penanganannya.

Sebagai informasi luas lahan gambut di Provinsi Sumsel adalah 1.270.421 Hektar atau 16,3 persen dari total luas Provinsi Sumatera Selatan.

Asosiasi Pengusaha Hasil Hutan Indonesia (APHI) melalui Komisariat Sumsel Iwan Setiawan mengatakan, meski kemarau tahun ini diprediksi merupakan kemarau basah, tetap tidak boleh lengah. Karena api bisa muncul tiba-tiba akibat cuaca sangat panas.

"Kami tidak mau lengah tahun ke tahun kami ingin kita semua selalu siaga dengan karhutla ini. Kita ini bertarung dengan kecepatan angin terlambat sedikit saja, apinya sudah luar biasa," ungkap Iwan dalam Webinar Kolaborasi cegah Karhutla, Kamis (7/8/2020).

Dirinya menerangkan, sejak tahun 90-an 20 perusahaan pemanfaat hasil kayu hutan yang tergabung dalam APHI Sumsel memastikan semua unit kerja melaksanakan pembukaan lahan tanpa bakar sebagai SOP-nya.

"Selain itu jika kami ada kerjasama dengan salah satu vendor atau kontraktor ketika dalam pengerjaan jika lahan terbakar baik sengaja maupun tidak disengaja kami beri sanksi, dan tidak diperbolehkan untuk melanjutkan pekerjaannya lagi," jelasnya.

Pihaknya juga bekerjasama dengan GAPKI Sumsel dalam menangani titik api yang muncul. "Kami juga kerjasama dengan anggota GAPKI yang lahannya berdampingan dengan lahan anggota APHI. Karena api ini tidak memandang apakah itu lahan sawit atau hutan," tegasnya.

Sementara itu Brigjen TNI Jauhari Agus Suraji, Danrem 044/Gapo mengatakan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar sejak April lalu.

"Kegiatan itu (sosialisasi) sudah kami masifkan sejak April lalu. Ada 108 Desa rawan karhutla yang ada di wilayah kami. (Sebelumnya) Membuka lahan dengan cara dibakar menjadi kebiasaan masyarakat sejak lama. Kebiasaan buruk ini kami sampaikan jangan diulang karena akan merugikan negara," kata dia.

Ia menerangkan, komposisi yang menangani Karhutla yakni alat utama melalui udara satu Unit Helikopter satu unit pesawat Cessna, dan 9 unit Helikopter tipe FI 8 yang bertugas water boombing.

"Kami memiliki sejumlah tahapan dalam menangani karhutla, diantaranya pencegahan dengan membuat canal blocking, sumur bor, parit, desa tangkal dan cek hotspot. Kemudian peringatan, patroli rutin, menyiapkan reaksi cepat, pelatihan dan optimalisasi desa tangguh tangkal bencana," pungkasnya.

Reporter : Rachmad Kurniawan Editor : Zul Mulkan 157